Mengapa Masyarakat Harus Menghindari Kabut Asap?

MENGAPA MASYARAKAT HARUS MENGHINDARI KABUT ASAP? Tentunya jelas, untuk menghindari dampak negatif dari kabut asap yang terhirup ke dalam tubuh kita.

Kabut asap bisa berasal dari berbagai hal seperti pembakaran sampah atau barang-barang lainnya, kendaraan bermotor, hingga bencana seperti kebakaran hutan.

Efek umum ketika menghirup kabut asap adalah sesak nafas. Dampak negatif lanjutannya adalah bisa menimbulkan berbagai gangguan kesehatan dan juga penyakit. Karena asap bisa mengandung berbagai zat berbahaya seperti ozon, sulfur dioksida, karbon monoksida, dan nitrogen oksida.

Maka dari itu, dampak negatif adalah alasan utama mengapa masyarakt harus menghindari kabut asap. Berikut ini sehatasik.com akan membahas dampak-dampak yang buruk dari kabut asap serta bagaimana cara mengatasinya.

Mengapa Masyarakat Harus Menghindari Kabut Asap?

Masyarakat tentunya harus berhati-hati ketika ada kabut asap yang cukup tebal. Usahakan untuk tidak menghirupnya. Karena menghirup kabut asap bisa menimbulkan gangguan kesehatan juga berbagai penyakit. Di antaranya:

1. Resiko Gangguan Paru-paru

Sebuah penelitian menunjukkan bahwa efek kabut asap dalam jangka panjang dapat meningkatkan risiko gangguan paru-paru, seperti infeksi saluran pernapasan dan emfisema.

Selain itu, efek kabut asap juga dapat memperburuk kondisi penderita asma dan penyakit paru obstruktif kronis (PPOK). Hal ini karena zat yang terkandung dalam kabut asap bersifat iritatif dan bisa membuat paru-paru meradang.

2. Batuk dan Iritasi Tenggorokan

Dalam jangka pendek, efek kabut asap dapat membuat seseorang mengalami batuk dan iritasi tenggorokan. Umumnya, keluhan ini berlangsung selama beberapa jam, tetapi bisa semakin parah jika paparan kabut asap terjadi terus-menerus dalam jangka panjang.

3. Resiko Penyakit Jantung

Alasan mengapa masyarakat harus menghindari kabut asap adalah berbagai partikel yang ada dalam kabut asap dapat memengaruhi fungsi jantung. Dalam jangka pendek, kabut asap dapat menyebabkan hipertensi dan stroke, sedangkan dalam jangka panjang, dapat meningkatkan risiko penyakit jantung koroner dan penumpukan plak pada pembuluh darah atau arteriosklerosis.

Hal ini diduga berkaitan dengan proses peradangan yang muncul karena paparan partikel berbahaya di dalam kabut asap.

4. Iritasi Mata

Efek kabut asap juga dapat menyebabkan iritasi pada mata. Hal ini karena adanya debu dan zat iritatif yang terkandung di dalam kabut asap. Oleh karena itu, sediakan obat tetes mata dan jangan lupa gunakan kacamata saat beraktivitas di luar rumah, terutama saat sedang menghadapi kabut asap.

5. Resiko Kanker Paru-paru

Selanjutnya, alasan mengapa masyarakat harus menghindari kabut asap adalah dapat meningkatkan risiko terjadinya kanker paru-paru, meski Anda bukan perokok aktif. Hal ini karena kabut asap mengandung banyak partikel yang bersifat karsinogen atau bisa menyebabkan kanker.

6. Iritasi dan Peradangan Kulit

Tak hanya gangguan pada organ dalam, efek kabut asap juga dapat menimbulkan iritasi dan peradangan pada jaringan kulit. Sebuah penelitian menunjukkan bahwa kabut asap dapat meningkatkan risiko terjadinya penuaan dini, jerawat, kanker kulit, serta memperburuk gejala eksim dan psoriasis.

Cara Mencegah Dampak Kabut Asap

Mengapa Masyarakat Harus Menghindari Kabut Asap
Mengapa Masyarakat Harus Menghindari Kabut Asap

Perlu dicatat bahwa efek buruk kabut asap dapat berbeda-beda pada setiap individu. Bayi, anak-anak, dan lansia adalah kelompok paling rentan terhadap efek kabut asap.

Oleh karena itu, batasi aktivitas di luar ruangan ketika musim kabut asap datang. Jika harus beraktivitas di ruang terbuka, usahakan untuk tidak berlama-lama serta pakailah masker yang menutupi mulut dan hidung.

Apabila Anda mengalami keluhan, seperti sesak napas atau batuk-batuk akibat paparan kabut asap, segera konsultasikan ke dokter untuk mendapatkan pemeriksaan dan penanganan yang tepat.

1. Membatasi Aktivitas di luar Ruangan

Hindari atau kurangi aktivitas di luar ruangan untuk mengurangi risiko paparan asap. Ini sangat dianjurkan bagi mereka yang memiliki gangguan pernapasan atau penyakit jantung. Meski demikian, orang sehat sekalipun juga dapat terkena dampaknya.

Mengingat kepekatan kabut asap bisa berbeda setiap harinya dan dengan cepat menyebar, baiknya lakukan pengecekan kualitas udara secara berkala melalui aplikasi atau laman resmi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Dengan begitu langkah perlindungan seperti menyediakan masker yang tepat bisa dilakukan.

2. Pakai Masker

“Saat kualitas udara enggak bagus, memang tidak disarankan berkegiatan luar ruangan tapi kalau terpaksa ya pakai alat pelindung diri, yakni masker yang bisa filtrasi polutan,” kata Agus Dwi Susanto, Ketua Departemen Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi Fakultas Kedokteran UI beberapa waktu lalu.

Agus menekankan penggunaan respirator yang lebih efektif menyaring hingga 95 persen polutan. Respirator yang umum ditemui yakni jenis N95. Masker biasa termasuk masker hijau juga bisa digunakan, hanya saja efektivitasnya jauh di bawah respirator.

3. Banyak Minum Air Putih

Asupan air yang cukup berperan penting dalam menunjang kinerja organ tubuh. Tak hanya menghilangkan rasa haus, air putih juga membantu mengatasi dehidrasi, mengalirkan nutrisi penting hingga membantu melembapkan kulit.

Saat ada paparan asap, tubuh secara tidak langsung terpapar racun, kotoran juga polutan lain. Air putih membantu mekanisme pembuangan kotoran dan racun yang masuk ke tubuh.

4. Jaga Ruangan agar Selalu Tertutup

Penting untuk memastikan ruangan yang ditempati seperti rumah, sekolah atau gedung kantor dalam kondisi tertutup. Andalkan pendingin ruangan (AC) agar udara tetap tersaring dan sejuk.

Jika tidak ada AC, Anda bisa memasang kain basah pada sela-sela ventilasi, seperti sela pintu dan jendela. Kain basah atau tirai basah akan menangkal partikulat debu yang masuk ruangan, namun tak membuat sirkulasi udara terhambat.

5. Lindungi Pasokan Air dan Makanan

Paparan asap yang masuk ke ruangan bisa mengotori penampungan air minum dan makanan. Selalu tutup wadah makanan dan minuman. Pastikan galon ditutup dengan kain, terutama pada bagian keran.

Kabut asap mengandung partikel berbahaya yang dapat menempel pada minuman dan makanan. Bila tertelan, ditakutkan akan memicu peradangan pada sistem pencernaan, mulai dari mulut, tenggorokan, bahkan lambung.

6. Menerapkan PHBS

Saat ruangan sudah aman dari paparan asap, bukan berarti upaya berhenti sampai di sini. Tetap jaga diri dengan menerapkan perilaku hidup sehat bersih (PHBS) dengan konsumsi makan makanan bergizi dan istirahat cukup.

Keduanya akan membantu meningkatkan sistem imun sehingga badan tidak mudah tumbang karena asap. Selain itu kurangi kebiasaan buruk seperti merokok atau minum minuman beralkohol.

7. Cuci Bahan Makanan

Pastikan untuk mencuci bersih semua yang akan Anda konsumsi atau olah, terutama buah dan sayur yang akan dikonsumsi langsung. Ini pun berlaku untuk sayuran atau bahan lain yang akan dimasak. Cuci dengan seksama atau jika perlu menggunakan sabun pencuci bahan makanan.

Makanan bisa terkontaminasi kandungan berbagaha dari asap. Ini juga menjadi alasan mengapa masyarakat harus menghindari kabut asap.

8. Konsultasi dengan Dokter

Bagi orang yang rentan dengan paparan kabut asap, seperti anak-anak, ibu hamil, lansia, terutama mereka yang sudah memiliki gangguan pernapasan dan penyakit jantung, wajib berkonsultasi dengan dokter. Konsultasi bertujuan agar kabut asap tak memunculkan risiko kesehatan yang parah, termasuk kemungkinan penyediaan oksigen serta obat-obatan.

Nah, jadi itu dia ya Sobat alasan mengapa masyarakat harus menghindari kabut asap. Tentu jawabannya sudah jelas, yakni untuk menghindari dampak buruk bagi kesehatan.

sumber: https://sehatnegeriku.kemkes.go.id/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *